Tahukah kamu siapa penemu pesawat terbang? Apakah kamu tahu hal terpenting dalam marketing? Bisakah kamu menyebutkan macam-macam golongan darah dan kandungannya?

Mungkin banyak dari kamu yang bisa dengan mudah dapat menyebutkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Heemmm, temasuk aku juga sih sebenernya.

Tapi gimana kalo pertanyaannya diubah sedikit, jadi: tahukah kamu cara membuat pesawat terbang? Apakah kamu bisa menjual sebuah produk dengan teknik marketing yang kamu pelajari? Bisakah kamu menjelaskan bagaimana cara menggunakan golongan darah untuk mengidentifikasi penjahat?

Kalo aku ditanya pertanyaan-pertanyaan di atas sih, aku cuman bakalan bisa tersenyum malu-malu dan menggelengkan kepala. Because I have no idea at all. Tapi aku rasa, banyak dari kalian yang juga akan memberikan respon yang sama denganku.

Sejalan dengan itu, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia hanya berhasil meraih peringkat 62 dari 69 negara yang berpartisipasi dalam PISA (Program untuk Penilaian Siswa Internasional) 2015.

PISA sendiri merupakan program survei internasional tiga tahunan dari OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia dengan menguji ketrampilan dan pengetahuan siswa berusia 15 tahun. Siswa dinilai dalam bidang sains, matematika, membaca, collaborative problem solving dan financial literacy.

Namun, yang dinilai bukanlah kemampuan mengingat pelajaran yang pernah diajarkan, melainkan PISA menilai sejauh mana siswa yang telah mendekati akhir masa pendidikan wajib mereka "telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan pokok yang dibutuhkan untuk dapat berpartisipasi penuh dalam lingkungan masyarakat yang semakin kompetitif".

Asumsi yang mendasari pengujian PISA adalah bahwa "ekonomi modern memberi penghargaan kepada individu, bukan untuk apa yang mereka ketahui, tapi untuk apa yang dapat mereka lakukan dengan apa yang mereka ketahui".

Jadi, apa yang salah dengan sistem pendidikan yang sudah dianut bergenerasi – generasi di negara tercinta kita ini?

Padahal seharusnya kita belajar, dengan kesadaran bahwa ilmu yang kita pelajari tersebut memang bermanfaat bagi masa depan kita. Ahirnya, dengan mudah kita melupakan semua yang sudah kita hafal, setelah masa ujian berakhir.

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Nanang Fattah mengatakan bahwa sampai saat ini, sistem pendidikan di Indonesia tetap terlalu berfokus pada membagikan sebanyak mungkin teori kepada siswa, dibanding dengan menunjukkan bagaimana cara mengaplikasikan teori tersebut di kehidupan nyata. Padahal sebenarnya, metode pembelajaran yang ideal adalah 80% praktek dan hanya 20% teori.

Lebih jauh lagi, Abduhzen, pengamat pendidikan, berkomentar bahwa guru cenderung mendorong siswa-siswinya untuk “menghafal” dan bukannya “mengerti” pelajaran. Guru menuntut siswa untuk dapat menghafal semua data, fakta, dan rumus, yang kemudian dijadikan alat ukur untuk mengetahui tingkat kecerdasan dan kesiapan siswa; melalui berbagai macam ujian, termasuk ujian nasional.

Apa akibatnya? Well, kita jadi terpaksa belajar, soalnya nggak mau dapat nilai jelek kan? Padahal seharusnya kita belajar, dengan kesadaran bahwa ilmu yang kita pelajari tersebut memang bermanfaat bagi masa depan kita. Ahirnya, dengan mudah kita melupakan semua yang sudah kita hafal, setelah masa ujian berakhir. Benar apa benar?

Ditambah lagi, seringkali, kita dibiasakan untuk berpikir bahwa apa yang dijelaskan guru di kelas adalah mutlak; tidak untuk dipertanyakan. Metode pembelajaran yang diterapkan adalah satu arah, dari guru ke siswa. Kita tidak didorong untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran melalui diskusi, maupun kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang menantang. Padahal, kenyataannya, kita perlu terlibat akftif, untuk bisa mengekspresikan pemikiran, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan berpikir kreatif kita.

Nah, kalau kondisi seperti ini tetap dibiarkan begitu saja, sudah pasti kita akan tertinggal jauh dengan orang-orang luar negeri, yang seumur dengan kita. Karena kita tidak dibiasakan untuk berpikir kritis dan mengaplikasikan apa yang kita pelajari, kita tidak akan memiliki kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bersaing di dunia global yang persaingannya semakin lama semakin sengit.

Tentu butuh proses dan waktu yang tidak sebentar untuk mengubah sistem pendidikan yang sudah mendarah daging di atas, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengambil inisiatif untuk membekali diri kita sendiri. Untuk itu, sebagai pelajar, hal yang harus kita ingat adalah: “knowledge can be acquired anywhere, not just inside the classroom”. Jika kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan secara optimal di dalam ruang kelas, kita bisa mencoba sendiri hal-hal yang dapat mengasah dan melatih kemampuan berpikir, serta keterampilan yang kita miliki, di tempat lain.

Kelas online, belajar dimana saja (Foto: Thinkstocks)

Pernah dengar tentang experiential learning method? Basically experiential learning itu konsep belajar dengan melakukan atau turut berpartisipasi secara langsung. Experential learning memberi kesempatan untuk mempraktekkan teori-teori yang selama ini kita dengar, sehingga kita tahu relevansi dari semua teori itu dengan kehidupan real. Atau dengan kata lain, dengan menggabungkan pengalaman konkret dan teori, serta kemudian merefleksikan hasilnya, konsep ini memungkinkan kita untuk menyerap pengetahuan baru dengan lebih cepat dan bermakna. Selain itu, experiential learning juga mengasah kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan problem-solving kita.

Konsep experiential learning inilah yang diusung oleh Vooya yang bergerak di bidang studi tur. Vooya berfokus untuk memberikan hands-on experience kepada pesertanya melalui berbagai macam kegiatan yang menarik, fun, dan bermanfaat.

Misalnya aja belajar menjadi jurnalis di salah satu media massa terbesar di dunia, The Guardian UK. Teori-teori yang berkaitan dengan menulis yang selama ini kita dapat dalam pelajaran Bahasa Indonesia, bisa kita aplikasikan secara langsung.

Selain itu, kita juga bisa belajar penggunaan golongan darah untuk membantu memecahkan masalah kriminal, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang dapat menambah wawasan dan mengasah keterampilan dan kerja otak kita. Ditambah lagi, karena proses pembelajaran dikemas dalam bentuk studi tur, selain jadi tahu apa kegunaan teori yang selama ini diajarkan dalam ruang kelas, kita juga bisa belajar mengenai life skills, seperti kemandirian, keberanian, team work; juga belajar budaya dan cara hidup orang di belahan dunia lain, yang pastinya bakal memperluas perspektif kita.

So, always remember: classroom is just a start, but an effective and more useful knowledge should be acquired beyond the walls of the classroom. It should be acquired in the real world, as our real battlefield.

 

SHARE

Login

Forgot Password? New Customer? Register here.
-->